
Bagi pemilik coffeeshop, apalagi yang cocok untuk WFC dan beraktifitas, salah satu hal paling bikin pusing adala menghadapi konsumen yang membawa "bekal" sendiri ketika datang ke coffeeshop kita, khususnya TUMBLER minum. Yah tumbler minum yang "entah" berisi air apa di dalam "bisa jadi coffee dari tempat lain haha".
Coba Anda sebagai pemilik coffeeshop sedang datang ke outlet dan melihat di setiap meja berjajar tumbler konsumen, sementara Anda berharap dapat menjual minuman "air mineral", khususnya yang marginnya sangat penting bagi bisnis kita, pasti pusing juga khan, bercampur kesal tapi juga di sisi lain muncul ketakutan kalau misalnya nanti di larang atau di tegur eh malah "galakan" konsumennya yang marah balik, bisa "galak" nya di tempat, bisa juga "galak" nya di Google Review dengan memberi bintang 1, bahkan di social media seperti IG / TikTok dengan memberikan video dan photo review yang buruk.
Bahkan di beberapa kesempatan, saya beberapa kali melihat di beberapa coffeeshop yang khususnya memang "ramah" WFC ada konsumen yang membawa bukan lagi tumbler, tapi botol 1.5 liter air yang ditaro di meja tempat kerjanya. Saya juga konsumen sih di sana, tapi kok jadi ikut "nyesek" melihatnya membayangkan investasi coffeshop yang keren ini, minimal 2-3 miliar, tapi mendapati tipe konsumen yang seperti ini.
"Lah khan beli juga tetep kopi", iya sih tapi kursi / seating capacity khan ga muter, minimal kalau lama duduknya, belinya banyak lah, termasuk air mineral dan ga diniatkan bawa 1.5 liter air juga. Bisa dimaklumi kalau harga kopi yang dibeli seperti harganya "kopi ijo", lah ini kan brand lokal, mesin La Marzoco, harga jual kopi paling mahal 28 ribu, jadi "social place" kalau kayak gini. Lebih sadis lagi, minggu lalu di salah satu brand nasional lokal yang besar, konsumennya bawa rantang makanan dan makan di dalam outlet. HORORR.
Lalu bagaimana solusinya? Solusi terbaik sih MUTUAL RESPECT, pengusaha memberikan fasilitas terbaik, konsumen yah belanja / spending. Tapi yah tentu sulit kalau hanya "berharap", karena konsumen beda-beda perilakunya, jadi pengusaha coffeeshop harus punya strategi atau cara yang tepat untuk mensiasati hal ini. Apa Itu?
1. Kebijakan yg Jelas Sejak Awal.
Jika ingin melarang makanan dan minuman dari luar sejak awal, berlakukan kebijakan yang jelas, di informasikan dan selalu diingatkan ke konsumen. Contoh, saya sering makan Seirock-Ya Ramen di Jakarta, seingat saya setiap mau masuk ke outlet, mereka dari dulu selalu mengingatkan dilarang mengkonsumsi makanan dan minuman dari luar. Apakah saya "kesal?" enggak sih, yang penting diingatkan dengan ramah saja, jadi jikapun saya kebetulan membawa makanan dan minuman yah disimpan di dalam tas atau wadah saja.
Selain diingatkan selalu oleh karyawan untuk menginformasikan kebijakan tidak boleh membawa & mengkonsumsi makanan dan minuman dari luar secara ramah, bisa juga diberikan tanda atau petunjuk yang jelas, misalnya ada roll banner atau akrilik larangan makanan dan minuman dari luar. "Bagaimana jika ada konsumen yang bertanya dan marah kenapa di larang?" Cukup dijawab dengan ramah, "ini kebijakan yang dibuat oleh manajemen" tidak perlu debat.
2. Tumbler Brand Isi Ulang
Salah satu brand kopi seingat saya memberlakukan kebijakan bisa bawa tumbler, asal tumbler brand untuk di isi ulang. Bagus ga strategi ini? Ga paham jawabnya gimana karena tidak ada datanya, tapi in term of loyal customer ini cukup bagus "menurut pemahaman saya", tapi sulitnya adalah melakukan kontrol apakah benar isinya produk kita atau tidak? Gampangnya gini, saya beli ajah tumblernya, tiap hari numpang duduk dan taro di meja tumblernya padahal isinya es teh manis yang di bawa dari rumah, lebih gawat nya lagi jika konsumen nya mengisi dengan minuman beralkohol dari rumah, dan di konsumsi di outet kita.
3. Kebijakan Halal
Ini basically seperti no 1 tapi diperkuat dengan komitmen kebijakan Halal yang memang secara regulasi tidak memperbolehkan ada makanan dan minuman dari luar yang boleh di konsumsi kecuali makanan dan minuman yang memang dijual di coffeeshop tersebut. Buat karyawan, mengingatkan konsumen terkait ini mungkin lebih mudah karena ada "pengangan" soal halal, cuma yah masih sedikit coffeeshop yang memiliki Sertifikat Halal sejauh ini.
4. No Problem
Nah ini juga bisa jika Anda merasa kalau segmen market Anda kalau datang pasti belanjanya "banyak", misalnya di domimasi middle class market, family, profesional yang memang punya daya beli kuat. Contoh, sekali datang ber-5 belanjanya sampe 1/2 juta, yah klo mereka bawa tumbler yah udah lah, apalagi biasanya cuman 1-2 jam maksimal di outlet, setelahnya pergi lagi, bukan yang "begadang" atau "ngantor" di coffeeshop Anda. Poin no 4 ini biasanya tergantung analisa Anda sebagai pebisnis.
Nah setelah 4 poin diatas, bagaimana mensiati soal tumbler ini, hal yg sangat penting perlu diperhatikan adalah cara "menegur" atau memberikan informasi ke konsumen terkait dengan kebijakan yang Anda buat, agar tidak menimbulkan "ketidaknyamanan" bagi konsumen.
Bagaimana kalau tetap di review buruk? padahal sudah di informasikan dengan baik, ramah, dan sesuai SOP?
Komplain pasti terjadi, tidak semua perlu ditindak lanjuti karena pada dasarnya memang konsumen yang bersangkutan "bukan target market". Jika semua sudah dilakukan dengan baik, ramah, dan sesuai SOP. Fokus untuk memberikan layanan terbaik ke konsumen yang masih terus datang dan membeli.
Terakhir, untuk temen-temen konsumen dan tentu saya juga pribadi sebagai orang yang sering datang ke coffeeshop, kita harus memahami beberapa hal:
1. Show Some Respect & Support
Jadi pengusaha itu keluar modalnya tidak sedikit, bisa jadi uang modalnya dari tabungan terakhirnya, pinjaman keluarga, jual tanah, dll. Mereka juga membuka lapangan pekerjaan dimana banyak keluarga mendapatkan nafkah, vendor kecil juga bisa hidup dari belanja mereka, berikanlah support dan respect dengan membeli dan tidak membawa makanan dan minuman dari luar.
2. Sesuaikan dengan Kapasitas
Jika memang kebijakan coffeeshop jelas, dilarang membawa & mengkonsumsi makanan & minuman dari luar, that simple kalau tidak setuju yah tidak usah datang, cari tempat yang memang memperbolehkan kita membawa makanan dan minuman dari luar, mungkin tempat tersebut sudah berhitung secara bisnis masih masuk jika punya banyak konsumen yang membawa & mengkonsumsi makanan dan minuman dari luar. Janganlah karena kebijakan mereka, kita jadi memberikan review-review buruk, apalagi dicari-cari hal lainnya, jika memang ingin memberikan masukan bisa di DM langsung, agar sangat bermanfaat bagi pengusaha nya.
Semoga dari tulisan ini, pengusaha coffeeshop bisa mensiasati persoalannya ini jika terjadi di tempat kita, di sisi lain sebagai konsumen (termasuk juga kami, tim Foodizz) yuk kita berikan support dan some respect agar pada akhirnya everybody happy, kita bisa dapet tempat nyaman tapi pengusaha juga bisa hidup dan dapet untung, sehingga bisa bertahan, berkembang bisnisnya, dan memberikan manfaat yang besar ke lingkungan sekitarnya.
Semoga artikel kali ini bisa bermanfaat dan bisa diterapkan oleh sahabat kuliner semua di bisnisnya, titip selalu doa untuk Tim Foodizz Academy yah agar bisa terus berkarya dan berbagi untuk kemajuan bisnis kuliner di Indonesia.
Foodizz Academy
www.foodizz.id
www.foodizz-news.com

Disclaimer:
Diunggah {{ article.formatted_published_at }}