Mindset

Bisnis Kuliner buat Pensiunan, cocok ga?

  • Oleh: Admin Foodizz
  • Diunggah 13 Oktober 2025

 

Beberapa kali saya di minta untuk sharing kepada peserta calon pensiunan di beberapa perusahaan, rencananya sih perusahaan mau memberikan pembekalan buat para pensiunannya bagaimana bisa memulai bisnis kuliner ketika nanti pensiun, sehingga punya "bekal" atau "pekerjaan" di masa pensiunnnya, serta juga tentu berharap bisa ada "penghasilan tambahan" ketika nanti memasuki masa pensiun.

Sebetulnya saya agak bingung dengan konsep pensiunan "dibekali" pengetahuan tentang bisnis, apapun bisnis nya, tentu pembekalan seperti ini "JAUH' dari kata cukup untuk bisa memahami bisnis itu seperti apa, apalagi menjalankannya. Pembekalan menurut saya harus berkala, terprogram, dan punya kurikulum, serta ada bimbingan yang intensif apalagi ini pensiunan yang tentu tidak bisa "mengorbankan segalanya" untuk bisnis, beda kalau yang memang masih muda, "bakar kapal" buat bisnis, gagal pun masih banyak waktu untuk kembali mencoba, yah istilahnya nothing to lose, lah kalau pensiunan bagaimana?

 

Jadi, tentunya ketika sharing saya tampilkan BRUTAL FACT yang akan dihadapi oleh Bapak/  Ibu pensiunan jika ingin memulai bisnis, khususnya bisnis kuliner. Apa itu?

  1. 7 hari 24 jam kerja keras
  2. Cost sudah pasti, Untung belum jelas
  3. Kompetisi yang mengerikan
  4. Wajib terus menerus belajar
  5. Stress, pusing, jadi temen setiap waktu
  6. Tekanan fisik dan mental 
     

Masih banyak lagi yang akan dihadapi ketika memutuskan untuk jadi pengusaha, jarang lah yang moonshot gitu, mulai langsung bisa sukses, kebanyakan akan melalui proses yang BRUTAL di lapangan. YAKIN? Katakanlah punya uang banyak, tapi memang punya waktu, tenaga, dan mental untuk memulai dari awal?

Apa tujuan saya menampilkan BRUTAL FACT ini, yah agar Bapak / Ibu pensiunan ini melihat dunia nyata bisnis kuliner, bukan dunia tipu-tipu atau janji-janji manis ketika akan memulai bisnis kuliner, baik itu memulai dengan brand sendiri ataupun ambil kemitraan / franchise bisnis orang. Agar Bapak / Ibu sadar ada RESIKO di depan mata yang akan di hadapi, agar sadar bahwa dunia bisnis itu bukan sesuatu yang ditampilkan indah di PPT pembicara selama 1.5 jam, lebih-lebih ternyata yang sharing juga ga pernah bisnis.

Tapi kan tetep dong ada potensi besar, oh iya betul pasti, bisnis kuliner bisa menghasilkan puluhan, ratusan, bahkan miliaran kalau sukses, tapi apa yakin siap untuk menjalani PROSES nya itu di umur segitu (pensiunan)? "Lah Kolonel Sanders khan bisa jadi contoh sukses", Iya betul, 1 dari ratusan juta manusia di umur pensiun mungkin.

 

Jadi Solusinya apa dong buat pensiunan agar memiliki kegiatan?

 

1. Portfolio Investasi

Coba bagi dana yang dimiliki baik dalam bentuk free cash flow atau aset yang bisa dijadikan cash dalam bentuk portfolio investasi. 50:30:20, yaitu:

  • 50% di aset yang aman, seperti: emas, deposito, atau tabungan.
  • 30% di aset yang berisiko, seperti: saham blue chips, reksadana, dll
  • 20% baru di aset yang paling berisiko, seperti: bisnis

Jadi jikapun gagal, di masa pensiun kita tidak kehilangan segala yang pernah kita perjuangkan. Ingat sesukses apapun karir Bapak / Ibu, tetep tidak bisa jadi bekal kuat untuk bisa sukses di dunia bisnis / usaha, ini dua dunia yang sangat berbeda.

 

2. Berpartner dengan yg muda (Passive Equity Investor)

20% aset yang ingin digunakan untuk usaha bisa digunakan, misalnya untuk berinvestasi menjadi pemegang saham (equity) di perusahaan yang sudah ada "entrepreneur" nya, sehingga kita cukup menjadi passive investor, di mana mungkin hanya sebatas memberikan masukan serta menerima laporan keuangan setiap bulan, yah syukur-syukur dapet dividen rutin akhinya, karena bisnis dan partnernya berjalan dengan baik, atau jackpot nya bisnis kita tumbuh besar, valuasi, dan akhirnya misalnya di beli oleh big business lain atau IPO. Ingat yah, budget ini hanya menggunakan 20% alokasi dana yang ada.

 

3. Outlet Investor Brand yang Potensial

Poin no.2 ada kelemahan, yaitu bisa jadi bagi hasilnya hanya 1 tahun sekali dalam bentuk dividen, biasanya ga ada tuh terima bagi hasil bulanan. Kalau mengharapkan ada bagi hasil bulanan, solusinya adalah menjadi outlet investor sebuah brand yang potensial. Misalnya, brand X mau buka cabang, nah brand x ini membuka opsi pendanaan outlet dengan investor dengan skema bagi hasil omset / profit, nah Bapak / Ibu bisa join di investasi seperti ini. Tapi ingat, tetap lakukan riset, cari tau sebanyak mungkin informasi terkait brand X ini, sehingga tidak kena janji-janji manis pemilik brand.  

 

4. Bisnis yang sudah punya Sistem

Jika Bapak / Ibu tetep ingin punya bisnis yang bisa dijalankan sendiri karena pengen ada kerjaan, mungkin pilihan berikutnya yang lebih masuk akal ada membeli franchise / kemitraan yang memang operasionalnya dijalankan oleh mitra (yaitu Bapak / Ibu pensiunan), bedanya dengan nomor 3 adalah terkait operasional, no.3 operasionalnya di jalankan pemilik brand, di poin no. 4 operasional yah di jalankan oleh Bapak / Ibu.

 

5. Bisnis Kecil-kecilan yang penting di bawa happy

Terakhir tetep nih pengen punya binsis sendiri dan brand sendiri biar bebas, yah tetep silahkan saja asal hanya menggunakan alokasi 20% di poin no.1, jangan pernah all in mempertaruhkan semua (dana / tabungan / aset) untuk memulai bisnis dari nol, apalagi bisnis kuliner, please JANGAN, ini dunia yang Bapak / Ibu tidak pahami, journey panjang, tantangan besar, dan butuh Ilmu dan pengalaman. Jadikan bisnis yang dibuat untuk lebih have fun, happy menjalankannya, tidak jadi beban apalagi sumber stress.

 

Pesimis sekali? Saya lebih senang bahasanya, yah ini REALISTIS, khan tetep saya kasih solusi di poin 5 di atas, tapi pada akhirnya apapun yang diputuskan ingat juga hal ini, mau binsis apapun, wajib belajar ilmunya, yah bisnis apapun atau invest apapun.

 

Di akhir salah satu sesi sharing dengan perusahaan tambang, ada seorang Bapak nyamperin saya terus ngomong "nah ini saya suka, bicara apa adanya, brutal, dan bukan sekedar janji-janji manis bisnis pasti untung dan cepet kaya, tapi juga ngasih solusi terbaik untuk kita yang mau pensiun".

 

Semoga artikel ini bermanfaat buat Bapak / Ibu yang akan pensiun dan ingin punya bisnis apapun, khususnya bisnis kuliner atau juga mau berinvestasi. Titip doanya selalu untuk Foodizz Academy untuk bisa terus berbagi dan semua ilmu ini bisa jadi berkah untuk kita semua.

 

Note.
Buat yang ingin mengundang Foodizz Academy untuk sharing / berbagi dan memberikan ilmu silahkan kontak di nomor berikut: 

+62 811-2009-7974

 

Buat Sahabat Kuliner yang membutuhkan Mentoring berbagai Topic dan Tantangan dalam bisnis kuliner silahkan klik disini: CS Foodizz: +62-811-2009-7974

 

Foodizz Academy
www.foodizz.id

 

Disclaimer:

  • Artikel ini diperbolekan untuk di share & di posting ulang dengan mencantumkan sumber artikel www.foodizz.id/artikel 
  • Artikel ini tidak diperkenankan untuk penggunaan komersial, untuk penggunaan komersial wajib mencantumkan ijin tertulis yang diajukan melalui e mail: info@foodizz.id
{{ comment.length }} Comment
Sort By

Artikel Terkait

Artikel Terbaru